Film King Kong

Director: Peter Jackson
Cast: Adrien Brody (Jack Driscoll), Andy Serkis (King Kong), Naomi Watts (Ann Darrow), Jack Black (Carl Denham)
Running Time: 189 Minutes

___

Peter Jackson mungkin adalah sineas yang paling banyak dibicarakan beberapa tahun belakangan ini menyusul kesuksesannya menggarap salah satu trilogi tersukses sepanjang masa. Lord of the Rings memang tak bisa disangkal melambungkan namanya ke jajaran sutradara ternama macam James Cameron, Steven Spielberg, ataupun George Lucas. Semua orang penasaran mengenai karya berikutnya dari Jackson setelah Lord of the Rings; sebuah remake dari karya klasik tahun 1933 (juga film favorit Jackson muda) yakni King Kong. Dengan penuh rasa penasaran orang ingin melihat hasilnya. Satu tahun penuh menggarap King Kong, film yang akhirnya memecahkan rekor film termahal dengan budget 207 Juta US Dollar (rekor sebelumnya 200 Juta US Dollar oleh Spider-Man 2 dan Titanic) ini diluncurkan juga. Hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. King Kong dinilai banyak pihak sebagai penceritaan ulang yang sukses dari sebuah karya klasik. Tidak kurang bahkan para produser menuruti kehendak Jackson yang menjadikan film ini sampai berdurasi tiga jam lebih.

Setting King Kong sesuai dengan film originalnya, yakni tahun 1933 di mana Amerika tengah berada dalam masa Great Depression. Ketika itu penduduk Amerika seakan terbagi menjadi dua kasta. Mereka yang berjuang mati-matian untuk setidaknya bisa bertahan hidup, mengais sedikit uang dari apa yang bisa mereka lakukan; sementara golongan kedua masih bisa mempertahankan gaya hidup flamboyan mereka dan berfoya-foya. Di sini kita diajak menemui ketiga karakter yang akan menjadi sentral dalam film ini. Yang pertama adalah Ann Darrow, seorang gadis cantik polos yang memiliki kecintaan mendalam di dunia theater. Kedua adalah Carl Denham, seorang sutradara film nyentrik yang idenya masih sulit ditangkap kebanyakan orang. Dan terakhir nanti, adalah Jack Driscoll, seorang penulis naskah yang menjadi idola dari Ann.

Benang nasib mempertemukan Carl dengan Ann, di mana Carl mengajaknya untuk terlibat dalam syuting filmnya. Akhirnya Ann setuju dan berangkatlah mereka menuju sebuah pulau yang belum terpetakan di dunia saat itu, julukan dari pulau tersebut adalah Skull Island. Rencana Carl untuk mengambil gambar di tempat ini menjadi kacau balau ketika sadar bahwa Skull Island ditempati oleh suku primitif yang buas. Suku primitif ini menculik Ann dan mempersembahkan gadis ini kepada binatang yang mereka takuti. Binatang ini tak lain adalah Kong, seekor monyet gorilla raksasa yang buas. Toh, ketika melihat Ann pertama kali, Kong jatuh hati kepadanya dan bukannya memakannya – ia membawanya pergi.

Para kru dari kapal yang ditumpangi oleh Carlpun pergi mengejar Ann dipimpin oleh Jack dan Carl dengan motivasi yang berbeda. Sementara Jack yang juga jatuh hati kepada Ann mengejar Ann demi menyelamatkan sang cinta, Carl mengejar Ann dengan tujuan mengambil gambar mengenai Skull Island dan melanjutkan syutingnya – syukur-syukur kalau ia bisa menangkap sang gorilla raksasa untuk menambah koceknya. Tentunya pengejaran terhadap Ann ini bukanlah hal yang mudah karena Skull Island tidak hanya dihuni oleh Kong semata tetapi juga oleh pelbagai makhluk pra-sejarah lainnya yang disangka telah punah (baca: dinosaurus dan segala binatang raksasa lainnya).

Beberapa orang mengatakan film ini berjalan terlalu lama dengan satu jam pertama yang begitu-begitu membosankan. Saya tidak setuju. Jackson melakukan tugas yang brilian. Dalam sejam pertama, kita diberi kesempatan untuk mendalami setting dan karakter yang ada, sehingga saya bisa menilai Carl Denham sebagai seorang yang culas dan suka memanfaatkan orang, Ann Darrow sebagai gadis ‘desa’ yang lugu tetapi memiliki kecantikan dalam dan luaran yang luar biasa. Mungkin hanya Jack Driscoll lah yang kesulitan saya nilai – karena introduksinya dilakukan terlalu tergesa-gesa oleh Jackson. Perjalanan menuju Skull Island pun mendapat waktunya sendiri. Jackson hanya menggambarkan sedikit demi sedikit; penonton diberinya waktu untuk berimajinasi sendiri – seakan turut berlayar bersama kapal Venture Surabaya tersebut.

Lalu unjuk gigi Jackson dimulai ketika satu jam berlalu. Badai besar mengguncang kapal, dan membawa mereka ke Skull Island. Di sini saya dipaksa untuk menganga dan terus menganga. Setting dari Skull Island demikian fantastisnya sehingga nampak begitu real sekaligus begitu purba. Belum lagi dengan efek para dinosaurusnya yang digarap juga dengan sepenuh hati. Sayang mungkin pada beberapa bagian, Jackson sedikit tergesa-gesa sehingga nampak sekali campuran antara CG dan para aktor. Toh, hal itu masih dapat diampuni ketika puncak sajian di Skull Island disajikan. Pertempuran maha dahsyat antara para makhluk raksasa yang digarap secara mumpuni sekali. Kong nampak beringas, garang. Demikian pula dengan para V-Rex (Yes, they are not T-Rex) yang dibalut dengan CG yang membuat mereka nampak begitu real. Seakan tidak cukup dengan semuanya itu, Kong dibawa pula dari hutan sungguhan untuk mengamuk di hutan abstrak yang berisi pohon gedung pencakar langit. Efek yang disajikan? Megah. Setting dan latarnya? Jackson menggarap sebuah kota New York berjaman 30an dengan sempurna.

Sang Kong sendiri mendapatkan satu catatan khusus dari saya. Serkis tampil secara luar biasa. Ia begitu gorilla sekaligus begitu manusiawi (lihat tawanya – lihat ngambeknya – dan lihat drama cintanya!). Jackson hendak menyuguhkan seekor gorilla raksasa yang bisa memiliki perasaan tanpa kehilangan unsur beastnya dan Serkis berhasil mewujudkan visi Jackson. Andy Serkis memang tampil total untuk menjiwai Kong, dia rela hidup bersama para Gorilla di kandang beberapa hari demi mepelajari gerakan dan gaya hidup mereka. Acungan jempol buat si Gollum! Pewujudan dari Kong toh takkan sempurna bila tak ada balutan CG yang menarik. Jackson memang terkesan pelit menyajikan Kong di satu jam pertama, namun begitu Kong muncul, Jackson langsung menyajikannya secara total tanpa berusaha menyembunyikannya. CG Kong? Saya tak sempat lagi mengagumi CGnya, karena Kong nampak begitu real. Tunjukkan film ini kepada anak anda yang berusia 10 tahun tanpa memberitahukannya bahwa itu CG dan saya jamin anda akan ditanyai “Lihat gorilla sebesar itu di kebun binatang mana ya? Ayo kita pergi ke kebun binatang!

Film ini bila dilihat secara sekilas, tidak lagi memiliki celah apapun untuk dicela. Sayangnya, bila sekali lagi konsep ini diperhatikan lebih matang tentu nampak plot hole yang ada. Saya tidak mengatakan film ini terlalu lama, tetapi bila Jackson jeli, rasanya memotong 10 – 15 menit film ini bukanlah hal yang sulit baginya. Lalu karakter Jack Driscoll rasanya terlalu dianak tirikan bila dibandingkan dengan Ann, Carl, dan King Kong sekalipun. Adegan romantis antara King Kong dan Ann entah kenapa sedikit terasa absurd. (Spoiler: ke mana seluruh dunia ketika Ann bertemu dengan Kong di jalanan yang mendadak jadi sepi?). Kenapa seluruh kru di sana tidak terbengong-bengong ketika melihat para dinosaurus tetapi kaget setengah mati melihat Kong? Mungkinkah Jackson akan memanjakan kembali para kolektor DVD dengan merilis extended version dari King Kong? Berdurasi 4 jam mungkin? Kelemahan lain dari King Kong ada pada musiknya. Bila saya mengatakan latarnya digarap secara brilian tidak demikian dengan musiknya. Saya jauh menjagokan musik dari Narnia yang pas dalam begitu adegannya, maupun musik Lord of the Rings yang begitu berkesan heroik. Saya mengharapkan King Kong untuk memiliki nada-nada yang berkesan adventure sekaligus menegangkan tapi Howard agaknya gagal menghadirkannya buat saya. Sungguh saya sayangkan.

Bagaimanapun, semuanya itu hanyalah setitik noda yang buat saya tidak dapat merusak keindahan dari film King Kong. King Kong pada akhirnya walaupun bukan sebuah film yang salah satu film epik yang masuk dalam top 10 movie dalam hati saya, tetaplah salah satu film terbaik di tahun penuh kekecewaan ini. Terima kasih untuk kado tutup tahunnya, Peter Jackson!

(diculik dari: http://tukangreview.com/2010/01/13/king-kong-2005/)

___

Download film King Kong disini..

Iklan

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: